Tampilkan postingan dengan label Artikel. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Artikel. Tampilkan semua postingan

Rabu, Oktober 14

Buku Menjerat Gus Dur: membuka mata sejarah.

            Masa lalu di buat bukan untuk masa lampau itu sendiri, melainkan di buat untuk masa yang akan datang. Khrouchtchev mengaku bahwa sejarawan “satu kelompok yang bisa mempertanyakan legitimasi penguasa”. Dengan cara mengumpulkan dokumen dapat membuka mata sejarah. Bahkan, bisa  merekontruksi keadaan sosial dan politik pada masa lalu.[1]

Membaca buku Virdika Rizky Utama (Virdika) Menjerat Gus Dur membuat saya paham dengan sejarah di balik pelengseran presiden ke 4 tersebut. Lika-liku penjeratan Gus Dur ternyata tidak mudah. Dari berbagai kalangan satu padu menyatukan kerjasama untuk melengserkan cucu dari pendiri NU tersebut. Hal itu bisa di lihat begitu rumitnya persengkongkolan antara para elit politik, mahasiswa, organisasi masyarakat, media berupa koran dan TV.

            Abdur Rahman Wahid (Gus Dur) dilengserkan karena di anggap membelot oleh para elit politik. Gus Dur tidak mau berkompromi dengan mereka, terutama orang-orang yang di sebut di dalam bukunya Virdika. Pembelotan inilah yang menjadi momok bagi Gus dur dalam memimpin negara ini. Akhirnya terjadi sebuah peristiwa sejarah yang penting dalam kurun tahun 1999-2001.

            Ketika menonton vidio dan ulasan Virdika di You Tube. Ada beberapa yang saya ingat, virdika selalu menjelaskan, biasanya sejarah di tulis dan dinarasikan oleh para pemenang. Namun dalam bukunya ini, sejarah dan penarasiannya bebalik 180 derajat. Virdika menuliskan sejarah bagi yang kalah.

Namun, dalam buku menjerat Gus Dur di halaman 306 Gus dur tidak mengalah dengan lapang dada, tapi beliau juga melawan, dengan mengeluarkan gertakan berupa maklumat. Menanggapi ini Virdika menguraikan, Gus Dur sudah jelas kalah. Maka dari itu Gus Dur lebih baik melawan sekuat-kuatnya, sebaik-baiknya dan sehormat-sehormatnya.[2]

            Ketika selesai membaca dan saya hayati lebih mendalam, saya menemukan beberapa intisari penulis dalam menarasikan buku menjerat Gus Dur. Pertama, penulis memfokuskan pada beberapa kasus yang dikenai oleh Gus Dur. Dimulai dari pemecatan Jusuf Kalla dan Laksamana Sukardi.

Kedua, penulis lebih merincikan bagaimana penggulingan kasus Bruneigate dan Bulogate. Di sini tertampak jelas pada bab 5, oleh penulis diberikan subab sendiri. Buloggate dan Bruneigate ini memang begitu penting di jelaskan. Karena Gus dur menerima dana hibah dari sultan Brunei dan dana Bulog untuk mensejahterakan masyarakat di Aceh, bukan untuk hal lain, apalagi seperti yang dituduhkan yaitu pengkorupsian.

Dana Bulogate sendiri Gus Dur memahami, dana ini adalah dana taktis yang boleh digunakan jika ada permasalahan oleh negara, seperti yang dilakukan Soeharto dan Habibi. Sedangakn dana hibah dari Bruneigate sendiri sebenarnya tidak boleh disebarluaskan, mengingat itu hibah dan keharusan Gus Dur memagang amanah merahasiakan hal tersebut.

Virdika menjelaskan, bahwasannya Gus Dur tidak melakukan penyelewengan dan tidak ada bukti terkait kasus ini hingga saat ini. Hal ini di perkuat oleh ulasan Tempo yang diterbitkan tanggal 19 November 2003 dalam judul kasus bruneigate dan buloggate bisa di buka lagi.[3]

 Ketiga, pelengseran Gus Dur diadili tidak secara hukum, melainkan secara politis. Hal ini menjadi perdebatan panjang, dilalui oleh MPR/DPR (legislatif)  dan juga presiden (eksekutif). Karena sebagian yang berniat mengakhiri Gus Dur dari singgasana kepresidenan adalah elit politik di MPR/DPR. Akhirnya Gus Dur juga menanyakan, sebenarnya demokrasi yang ada di Indonesia sendiri itu bersistem presidensial atau parlementer.

Gus Dur sendiri menjalankan amanat reformasi tahun 1998. Amanat reformasi salah satunya pemberantasan korupsi sampai akar-akarnya. Gus Dur sudah mengusahakan pemberantasan korupsi. Bahkan Gus Dur membentuk Tim Gabungan Pemberantasan Tindak Pidana Korupsi (TGPTK).[4] Upaya inilah yang belum tertulis di dalam buku Menjerat Gus Dur.

Karena hal ini penting dijelaskan dalam buku Virdika, walupun hanya secuil di dalam cerita bukunya. Agar terlihat jelas usaha Gus Dur melawan dan menjalankan amanat dari reformasi untuk memberantas korupsi. Sedangkan KPK sendiri belum di bentuk pada era Gus Dur. Sehingga pembaca (apalagi millenial) ikut mempertanyakan, dimana peran Gus Dur membasmi korupsi.

Membaca buku Virdika, saya mulai mempertanyakan yang sekiranya belum terjelaskan dari buku menjerat Gus Dur. Menjadikan saya penasaran, bagaimana cara elit politik mendapatkan dana begitu besar untuk melengserkan Gus dur? Dari mana penunjang dana tersebut? Apakah dana-dana itu murni dari para pengusaha? Atau dari pihak lain? Apalagi Virdika juga menerangkan para elit politik membeli dollar untuk kasus penurunan ekonomi di era Gus Dur, Dari mana pembelian-pembelian semua itu berasal?

Mungkin pertanyaan ini terlalu membumbui dalam kepala, saya rasa perlu adanya studi lanjutan atau penelitian untuk menjelaskan hal ini. Kiranya menjadi menarik jika ada buku tandingan untuk menambah perspektif baru mengenai Gus Dur itu sendiri. Terutama di kala Gus Dur menjabat Presiden, dari pada buku guyonan ala Gus Dur yang sudah menyebar di seantero Indonesia. Begitu pesan dari Epilog yang di tulis Wahyu Muyardi di buku Menjerat Gus Dur.



[1] Asvi Warman Adam. Melawan Lupa, Menepis Stigma setelah prahara 1965. (Jakarta; Kompas, 2015). Hal. 3

Share:

Jumat, Oktober 5

Menjawab tantangan Literasi


Majalah dari lembaga pers mahasiswa (LPM) Dedikasi, yang kebetulan bertema “membaca budaya literasi hari ini”. Menurut saya majalah ini sangat tepat, dikala masih kurangnya buku-buku atau literatur  yang membahas apa itu leterasi. Terlepas dari itu, majalah ini juga dapat dijadikan sebuah refarensi bagi saya atau teman-teman yang mendiskusiakan literasi.
Kebetulan juga besok (24/07/2018) di daku sebagai pemantik diskusi mengenai literasi. Saya pun langsung berpandangan pada majalah LPM Dedikasi untuk mencari bahan-bahannya. Selain itu sehari sebelumnya, saya mencoba menyebarkan status di Whatshap (W.A), bertuliskan “apa itu literasi?” dari beberapa kontak saya di W.A sebanyak 5 orang yang telah menjawabnya.
Dari 5 orang tersebut, 2 orang menjawab literasi itu melek baca dan tulis. Ada juga yang menjelaskan, literasi adalah bagian dari pemahaman menganai hal-hal visual (gambar dan vidio). Ada juga yang memahami literasi itu menarik kesimpulan pemahaman dari sebuah bacaan. lalu diaplikasikannya sesuai masalah keseharian manusia. Namun, ada teman kontak saya yang nyeleneh. Baginya literasi itu membingungkan. Kita bisa memahami banyak teori dari sebuah bacaan. Tapi kita juga di jauhkan dari sebuah pengalaman hidup yang nyata. Baginya tidak ada sinkronisasi antara teori dan realita.
Itu tadi adalah sebuah penelitian kecil yang saya lakukan melalui media W.A. terlepas dari itu semua, saya juga mencari jawaban tentang “apa itu literasi?” melalui majalah dari LPM Dedikasi. Pada halaman 6 dijelaskan literasi ialah suatu keadaan menambah wawasan, kemampuan dan keterampilan sehingga kita dapat brpikir kritis, memecahkan masalah secara konteknya, berbicara secara efektif dan mampu mengembangkan potensi di ranah sosial. Sedangkan National Institute For Literacy memaknai literasi lebih dinamis, yaitu mendefiniskan literasi tergantung sesuai keterampilan dan kebutuhan dalam lingkungan tertentu.
Literasi sendiri sebenarnya bukan budaya Indonesia. Sehingga menanamkan budaya literasi perlu kerja keras. Kontelasi literasi sendiri hadir dari belahan negara-negara yang dianggap Barat dan merupkan dampak era modern ala Barat (Ben Egger, 2009). Indonesia sendiri terpengaruh dari peradaban yang dianggap Barat tersebut. Baginya orang-orang yang menekuni literasi lebih unggul dari yang tidak, ini begitu mengena di Indonesia. Karena sebelumnya Indonesia sendiri lebih memilih budaya lisan  atau tutur untuk memahami keterampilan dan wawasan suatu pengetahuan, bukan kegiatan baca dan tulis. Namun saya lebih senang literasi mengkombinasikan ketiga hal tersebut. Yaitu, membaca, menulis dan lisan (diskusi).
Terlepas dari perdebatan di atas, tulisan ini lebih terfokus apa itu literasi? literasi sendiri menurut saya ialah suatu keadaan menambah ilmu pengetahuan untuk bertindak kritis. Semua ini dilatarbelakangi jika seseorang tersebut membaca, menulis dan berdiskusi dalam kehidupannya. Sehingga kemampuan ini saling mempunyai benang merah. Meskipun ketiga hal ini juga berbeda antara satu dengan yang lainnya. Mari kita bahas satu persatu.
Membaca.
Nabi Muhammad menerima wahyu pertama kali yaitu Iqro’ yang diartikan membaca. Dewasa ini, arti membaca semakin berkembang. Ada salah satu profesor, Iqro tidak diartikan kegiatan membaca, melainkan meng-kritisi dan atau meneliti. Perintah membaca ini menjadi legitimasi bagi umatnya, bahwasannya membaca itu penting. Maka dari itu gerakan membaca diberbagai kalangan sekarang begitu masif digerakan entah itu anak, remaja, dewasa dan lansia.
Prosesi membaca ini membantu kita menambah cakrawala kehidupan, pengetahuan dan segalanya. Sebab semua akan ada jika kita mau membaca. Membaca juga menjadi alternatif menumbuhkan rasa empati di dalam diri kita. Menjadikan kita memahami pola logika yang bermain di setiap tulisan. Serta menjadikan terolahnya kata-kata ketika kita berbicara.
Buku sebagai sumber utama membaca berasal bukan dari kertas seperti saat ini. Dahulu kala buku tertulis di batu (prasasti), daun atau kulit domba yang begitu keras. Setelah kemajuan zaman kertas telah ditemukan oleh Cai Lun berasal dari Cina pada tahun 105 M. Saat itulah tulisan tercipta dalam bentuk buku sampai saat ini.
Seiring zaman semakin maju, penemuan mesin cetak oleh Johanes Guttenberg pada tahun 1450 membawa dampak penyebaran buku semakin banyak dan marak. Abad 15 di Barat eklusivitas ilmu pengetahuan masih dimiliki oleh otoritas elit, kalangan agamawan dan para penguasa. Sejak terciptanya mesin cetak ini eklusivitas tersebut telah roboh. Sejak saat itu ilmu pengetahuan semakin banyak dikonsumsi dari berbagai macam kalangan.
Malah saat ini buku sudah beredar secara Elektronik (E-Book). Meskipun kemunculan E-Book memudahkan kita untuk membaca diberbagai tempat tanpa harus membawa buku nyata yang terlihat berat. Di sini tetaplah tergantung para pembaca. Kata Dee Lestari kita tidak bisa serta merta menghakimi seseorang, karena setiap orang begitu unik. Ada sebagian yang suka secara E-Book dan ada juga lebih senang buku real.
Terlepas dari pemilihan E-Book atau buku secara real. Di sini bagi saya membaca tetaplah penting dalam khazanah pijakan awal literasi. Dengan membaca kita bisa memahami berbagai macam sudut pandang dari argumen penulis. Selain itu, bisa juga kita mengkritisi teori satu menggunakan analisa dari hasil bacaan kita. Sehingga kita dapat menuliskan argumen yang kita tempukan mejadi satu dan mendiskusikannya di depan publik secara runtut.
Menulis
Menulis adalah kegiatan penting. Sejak awal kita sekolah pasti akan diajari oleh guru kita tentang simbol-simbol. Simbol ini seperti huruf dan angka. Huruf dan angka adalah modal kita bisa merangkai tulisan. Entah ini nanti dalam bentuk artikel, opini, sastra dan lain-lain. Menulis juga dapat menjadikan rekam jejak kehidupan manusia dan berkomunikasi.
Maka dari itu menjadi penulis itu berat. Sebab butuh telaah dari bacaan begitu banyak. Selain itu kita juga harus dituntut untuk berargumen secara runtut, menggunakan logika yang tepat, bekreasi dengan penuh inovatif, bertindak kritis dan memunculkan hal baru dalam tulisan kita. Tapi bisa saja menulis itu mudah, Jika kita masih berlatih. Karena latihan dalam menulis tidak usah memperkarakan sesuatu yang berat. Namun Lambat laun kita akan menyadarinya sendiri bahwa menulis itu berat.
Menjadi seorang penulis juga harus konsisten dan ajeg. Konsisten dan ajeg ini kita bisa meluangkan waktu untuk terus melatih atau mengasah kemampuan kita dalam menulis. Disinilah yang menjadikan seseorang kuwalahan, sebab terkadang kita masih terkungkung dengan rutinitas sehari-hari.
Lisan (berdiskusi)
Lisan saya artikan sebagai diskusi. Karena menurut saya untuk mengencangkan sebuah ilmu pengetahuan yang kita serap melalui sebuah bacaan, hanya berada di diskusi. Entah nanti diskusi ini bisa dimaknai ngobrol bareng di warung kopi, atau diskusi secara formal ada pemantik, pendengar dan moderator.
Berdiskusi di sini kita bisa menumpukan dari berbagai macam bacaan antar orang satu dengan orang lain. Dengan begitu kita bisa mengukur batas kemampuan diri kita. Bisa mengukur bacaan kita. Serta dapat memahami perspektif orang lain.
Berdiskusi dapat mengetahui isi dari ekpresi kita ketika menyampaikan sebuah argumen. Bukan hanya kita, melainkan semua yang kita hadapi. Seperti ekpresi lawan bicara kita. Dengan begitu kita dapat mengetahui otoritas keseriusan dalam berargumen.
Keterhubungan ketiga hal ini Anderson (1972) menjelaskan berbicara (diskusi) dan menulis merupakan proses penyandian. Sedangkan membaca adalah suatu proses pembacaan sandi. Yaitu menghubungkan suatu makna antar kalimat yang tertulis dengan makna dalam bahasa lisan (berdiskusi). Maka dari itu membaca begitu penting karena berhubungan erat dengan menambah informasi. Menulis dan lisan (berdiskusi) ini berhubungan erat dalam memahami ekpresi, mengutarakan makna, membentuk opini dan mengemukakan pendapat.  Namun, siapa kira manusia dapat berargumen secara lisan (diskusi) dan menulis jika tidak dibarengi dengan banyak membaca?
Adanya ketiga hal ini menjadikan literasi itu bermakna. Literasi akan menjadi maju ketika semua dapat terkombinasikan secara runtut. Maka dari itu menanamkan pemahaman literasi pada generasi emas saat ini begitu penting. menanamkan literasi pada zaman “Now", menjawab tantangan berliterasi pada waktu saat ini juga. Apalagi sekarang ini dihadapkan dengan gawai yang semakin hari semakin canggih dan media penyebar “hoax”. Inilah tantangan saat ini.

Share:

Sabtu, April 1

Karancuan kata

aku tahu belum tentu aku sadar, aku sadar pastilah aku tahu
Perkuliahan praktikum spiritual yang ada pada semester empat ini menumbuhkan rasa intelektual dalam ranah kehidupanku. Penjelasan yang sangat rinci, jelas, padat, serta pemilihan kata yang logis, diksi yang tepat dan terus bisa diingat dalam diri ku. Mungkin ini juga di picu dari seorang dosennya yang saya kira benar-benar berkompetan pada mata kuliah ini.
Share:

Jumat, Juni 17

Positivisme

Dalam filsafat ada aliran yang bernama positivisme, positivisme berasal dari kata positive, di sini bukan berarti kebalikan dari negative. Tetapi positive yang berarti diketahui, faktual dan menyampingkan segala hal di luar fakta serta menolak metafisika. Posivisme adalah kealanjutan dari empirisme. Positivisme membatasi pikiran pada segala hal yang dapat dibuktikan dengan pengamatan. Aliran ini menyatakan bahwa ilmu alam sebagai satu-satunya sumber pengetahuan yang benar dan menolak metafisika. (Rizal Mutasyir dan Misnal Munir, 2010). Jadi, semakin keterbelakang metafisika semakin ditiadakan atau semakin empiris.
Positivisme hadir, berkembang dan tumbuh di Prancis dalam konteks atau merespon atas terjadinya rovolusi Prancis abad 19. Dimana politik saat itu Saling menggulingkan dimulai dari sistem monarki, demokrasi dll. Ilmuan saat itu di anggap konservatif (kolod) dalam memahami sejarah masa lalu itu lebih baik. Maksudnya, semua ilmuan saat itu ingin kembali ke masa lalu dan sikap konservatif itulah yang menjangkiti kepala manusia pada zaman itu. Semangat mengembalikan masa lalu bisa juga disebut orang yang anti rovolusi. Karena mereka menganggap orang-orang yang ingin melakukan revolusi ialah ekspresi atau orang-orang yang tidak memahami “hukum sosial”. Karena tokoh saat itu sangat terpengaruh sekali dengan teori evolusinya Darwin. Salah satu tokohnya Claude Saint Simon. Dia mempunyai seketaris sekaligus murid yang bernama August Comte.
August Comte inilah yang melopori aliran positivime, baginya positivisme ialah cara pandang dalam memandang dunia berdasarkan saint. August comte juga menganggap “hukum sosial” yang terjadi saat itu belum ada ilmunya. Maka dari itu, August Comte melahirkan ilmu sosial atau fisika sosail yang sekarang terkenal dengan Sosiologi. Dalam rangka menyelesaikan problem sosial saat itu. Dengan cara saintifikasi, dengan menganggap objek ilmu alam diganti dengan objek masayarakat dan metodenya menggunakan observasi.
August Comte juga terpengaruh oleh teorinya Darwin. Karena Agust Comte juga mempercayai evolusi. Sebagai contoh  di dalam buku atau karyanya yang berjudul “Cause of Positife Philosophy”.  Karyanya ini terdiri dari enam jilid dan di bagi dalam dua tema besar.
Pertama, The Law of Theree Stage (hukum tiga tahap), menurutnya masyarakat (Eropa) berkembang secara linier (evolusi) dari tahap satu ke tahap lainnya. Masyarakat (Eropa) akan mencari suatu tahap perkembangan yang lebih baik sampai terbaik. Masyarakat (Eropa) tidak akan tinggal di suatu tahap saja, masyarakat akan terus bergerak menuju tahap puncak. Dalam hukum tiga tahap yaitu:
1.    Tahap teologis.
Pada kebutuhan ini manusia membutuhkan jawaban yang absolut, maka dari itu pada tahap ini manusia membutuhkan sandaran (tuhan) untuk memperoleh jawabannya.
2.    Tahap metafisika
Dalam tahap ini manusia mulai menggunakan rasio dalam mencapai sesuatu yang diinginkannya. Tahapan ini juga sebagai tahap transisi dari teologis menuju ke positivisme.
3.    Tahap positivisme
Tahapan ini sudah menggunakan penelitian-penelitian sehingga segala sesuatu dapat di ilmiahkan. Jadi, manusia yang sudah mencapai tahapan ini akan mencari sesuatu dengan pembuktian dari persoalan yang dihadapinya.
Kedua,  The Law of Clasification of Science (hukum klasifikasi ilmu sains), bagi August Comte ilmu juga dapat di kalsifikasikan. Pendapatnya mengenai ini, yaitu datangnya ilmu matematika. Ilmu ini bersifat pasti dan general. Semua ilmu pasti menggunakan matematika sebagai analisis dengan metode observasi, dari astronomi, fisika, kimia dan biologi. Maka dari itu August Comte juga membuat ilmu sosial (sosiologi) dengan menggunakan analisis matematika dengan metode observasi. Jadi, menurutnya semua ilmu harus diwujudkan dengan observasi dan matematika sebagai analisisnya.
August Comte juga berpendapat tahap perkembangan (pikiran) memiliki relasi dengan perkembangan ilmu pengetahuan. Seperti halnya perkembangan sains memiliki hubungan dengan encyclopedic (tatanan yang berurutan). Di sini juga cukup jelas kalau August Comte juga terpengaruh oleh teori evolusinya Darwin. Dengan adanya tahapan-tahapan yang ada di karya besarnya sampai terdiri enam jilid tersebut.
Pada tahap-tahapan yang sudah dipaparkan di atas, August Comte menganggap bersifat universal atau nisbi. Maksudnya keniscayaan terhadap semua manusia di dunia ini. Jadi August Comte menganggap semua manusia akan mengalami sejarah seperti halnya masyarakat (Eropa) yang dia teliti. Maka manusia akan mengkiblat pada masyarakat (Eropa) yang sudah mengalami tahapan atau ideologi positivstik terlebih dahulu. Padahal di seluruh dunia sejarahnya tidak sama seperti halnya masyarakat (Eropa) yang diteliti August Comte.

*Hasil dari pelatihan epistemologi pada tanggal 24 April 16
Share:

Rabu, Maret 16

LEARDERSHIP

Sebagai mahasiswa seharusnya sudah mencapai dalam tingkatan aktualisasi diri dalam teori hierarki kebutuhannya Abraham Maslow yaitu tokoh yang bermadzab Humanis dalam ranah Psikologi.  Di dalam teorinya terdapat lima macam hierarki kebutuhan. Salah satunya hirarki yang ke lima yaitu aktualisasi diri.
 Menurut Maslow aktualisasi diri yaitu sesuatu yang sudah tidak diperlukannya keseimbangan dalam kehidupan. Tetapi memerlukan keinginan secara terus menerus untuk memenuhi potensi dalam dirinya. Jadi disini seseorang mahasiswa selalu berkeinginan menonjolkan sesuatu yang ada dalam dirinya agar memenuhi potensi yang dia inginkan. Salah satunya yaitu sikap menjadi pemimpin suatu organisasi, kelas, lingkungan sekitarnya maupun dirinya sendiri.
seseorang mahasiswa seharusnya mempunyai sifat pemimpin dalam pergelutan di dalam kampus, dalam menentukan suatu arahan dalam dirinya sendiri. Karena setiap individu harus mempunyai sifat ini. Bayangkan jika seseorang tak mempunyai jiwa pemimpin dirinya sendiri pasti seseorang itu akan mengikut saja tak punya arahan. bahkan mau memutuskan sesuatu dalam dirinya sendiri dia akan kebingungan. bukan hanya mahasiswa saja disini, tapi untuk khalayak umum juga harus mempunyai jiwa pemimpin dalam masyarakatnya dan dirinya sendiri.
Pemimpin adalah seseorang yang dapat memengaruhi suatu organisasi maupun dirinya untuk berbuat sesuatu seperti pekerjaan, sekolah, belajar lebih giat, masuk perkuliahan, aktif dalam perkuliahan, mengikuti diskusi dsb. Maka dari itu jiwa pemimpin itu tidak harus dalam organisasi saja tetapi juga dalam dirinya sendiri untuk menentukan suatu arahan keputusan yang akan di ambil nantinya atau pendek katanya memengaruhi dirinya untuk berbuat suatu hal. Tapi dalam tulisan ini akan saya tekankan pemimpin dalam sebuah organisasi. Karena saya yakin dalam diri seseorang sudah dapat memutuskan sesuatu atau memengaruhi dalam dirinya sendiri, tapi belum tentu seseorang yang dapat memengaruhi dirinya sendiri dapat memengaruhi sebuah perkumpulan suatu masyarakat atau oragnisasi.
 Pemimpin dalam sebuah organisasi itu bukanlah sesuatu yang anda lakukan untuk orang lain, melainkan sesuatu yang anda lakukan bersama-sama orang lain dalam organisasi itu. Jadi, dalam melakukan sesuatu hal seorang pemimpin itu juga harus melakukan bersama-sama dalam suatu pekerjaan yang dilakukannya bersama anggotanya. Istilah lainnya untuk masyarakat negara Indonesia yang bisa di bilang majmuk berbagai Ragam Suku, Adat, Ras dan Agama (SARA) ini yaitu gotong royong. Seseorang yang menjadi pemimpin suatu organisasi juga harus ikut terjun langsung ke dalam pelaksanaannya yang sudah di agendakan dalam organisasi itu.
Disaat saya mengikuti sebuah seminar yang dibawakan oleh bapak Agus Maimun Wakil Rektor Bidang Kemahasiswaan dari UIN Maliki Malang. Terdapat kata kunci dalam memimpin suatu organisasi, yaitu mempengaruhi, mendorong, mengajak, menuntun, menggerakkan, dan memaksa. Memaksa diperlukan karena disini dibutuhkan kejelasan dan ketegasan dalam melakukan suatu tugas. Jika seorang pemimpin melakukan kata kunci tersebut akan berakibat merasakan kebersamaan, kecintaan, penuh keikhlasan dalam menjalani suatu proyek pekerjaan, kesadaran dalam setiap individu dan berorientasi pada kegiatan profesional apalagi juga disertai memohon petunjuk kepada Tuhan yang Maha Esa.
Posisi seorang pemimpin itu dimana-mana. saya mengingat ketika saya kecil guru saya menerangkan semboyan pada pendidikan yang dipakai oleh seorang tokoh Nasional Ki Hajar Dewantoro, yaitu ing ngarso sung tulodho, pemimipin bisa dibelakang untuk mendorong sebuah organisasinya, ing madya mangun karso ditengah-tengah memberi semangat dan tut wuri handayani di depan memberi contoh begitulah posisi pemimpin.

Pemimpin itu tidak dibutuhkan sebuah gen atau keturunan dari siapa dia berasal, karena setiap individu berhak menjadi pemimpin dirinya sendiri bahkan dalam sebuah organisasi. Tapi seorang pemimpin harus mempunyai karateristik perilaku individu yang sudah digambarkan oleh pak Agus. Yaitu, memiliki kecerdasan cukup tinggi dalam membangun sebuah organisasi, memiliki kecakapan berkomunikasi, emosi terkendali, memiliki motivasi berprestasi, memiliki kepercayaan diri dan memiliki ambisi. Di sini seorang mahasiswa haruslah memenuhi potensinya agar tercapaainya aktualisasi diri. Dengan salah satunya sifat menjadi pemimpin organisasi dalam kampus maupun masyarakat umumnya dengan cara-cara di atas tadi.
Share:

Selasa, Maret 1

Pelangi agama

Pelangi-pelangi.
alangkah indahmu.
Merah, kuning, hiaju, di  langit yang biru.
Pelukismu agung, siapa gerangan?
Pelangi-pelangi ciptaan tuhan.
Terbayang pada masa-masa kecil di saat masih diajarkan bernyanyi oleh bapak-ibu guru di sekolah. Waktu itu sibuk menerka-nerka nada yang diberikan oleh sang guru, untuk menirukan nyanyiannya sehingga dapat  ditampilkan di depan kelas, guna  mendapatkan sebuah nilai yang layak diberikan kepada orang tuanya. Meski masa-masa kecil terlihat malu untuk maju ke depan kelas dan belum mengerti arti sebuah nilai yang akan diberikan oleh orang tuanya. Namun pada saat itu ada seorang guru yang menyemangati itu semua untuk memotivasinya, sehingga anak kecil itu tidak malu lagi bernyanyi di depan kelas. salah satu nyanyian yang di nyanyikannya adalah lagu ciptaan dari Masagus Abdullah Mahmud atau sering di kenal dengan A. T . Mahmud yang salah satu lagunya berjudul “pelangi”[1], yang sudah di nyanyikan di awal artikel ini. Mungkin di masa kecil menikmati itu lebih asik dari pada mengamati, walaupun seorang guru sudah memberikan stimulus kepada muridnya mengenai lagu-lagu yang diajarkannya.
Pelangi adalah suatu keadaan ketika cahaya matahari mengenai tetesan air yang pada akhirnya membias lalu membentuk sebuah warna yang sejajar seperti merah, kuning, hijau, ungu, jingga, pink dan lain sebagainya. Begitulah pelajaran waktu SMA yang dipelajari oleh siswa-siswi sekarang. Mungkin di masa kecil belum bisa diketahui dengan seperinci itu, karena masa kecil adalah masa bahagia yang menganggap pelangi hanyalah sebuah dongen yang katanya di ujung pelangi ada sebuah harta karun, lalu harta karun itu memancarkan sinarnya ke harta karun yang lain, sehingga membentuk sejajar. selain itu, juga ada yang menganggap pelangi adalah sebuah lagu untuk dinyanyikan di depan kelas. namun ketika beranjak dewasa pelangi dapat berfilosofi yang lain. seperti halnya agama. Seperti contohnya agama di nagara Indonesia yang sangat beragam yang sudah disahkan oleh pemerintah, dari agama Hindu, Budha, Islam, Kristen protestan maupun katolik dan kong hu chu. Bukan hanya itu saja, tapi juga ada budaya, ras, adat istiadat juga bercorak warna warni di nagara ini. Semua di negara ini tetap bisa saling berdampingan satu sama lainnya. Seperti pelangi yang bercorak warna warni juga dapat disejajarkan dan saling berdampingan dari warna satu ke warna yang lainnya.
Mengingat masa perjuangan, pada negara Indonesi yang merdeka pada tanggal 17 Agustus 1945 - atas nama bangsa Indonesia – Soekarno dan Moh Hatta telah memproklamasikan kemerdekaan Indonesia, sebuah negara yang melindungi dan mengakui keragaman budaya, tradisi dan keagamaan yang sudah menjadi bagian integral kehidupan bangsa Indonesia.[2] Di sini para pendiri bangsa sadar bahwa pada pancasila tidak ada yang bertentangan dengan masalah agama di negara Indonesia khususnya pada sila pertama. Malah pada sila pertama memperlihatkan keragaman bangsa ini dalam memperoleh agama. Mereka sebagai pemimpin bangsa yang juga merumuskan pancasila sangat mengayomi semua kepentingan dalam beragama, kayakinan, budaya dan tradisi agama.[3]
Membicarakan soal agama bisa di lihat dari berbagai macam hal yang sangat luas, agama bagaikan suatu keyakinan yang di anut oleh para penganutnya masing-masing. Banyak yang mendefinisikan apa itu agama, mungkin banyak pula yang menganggap agama itu adalah suatu keadaan ketika seseorang yang percaya dengan tuhannya atau dewanya untuk di sembah demi kehidupan supranatural atau kehidupan diakhiratnya kelak.[4] Agama juga tak luput dari sebuah penelitian yang dilakukan oleh para tokoh-tokoh teoritikus sekaligus komentar mereka mengenai agama, seperti halnya Freud yang memandang agama dari psikologis manusia, Kalr Marx yang menganggap agama adalah candu dan masih banyak lagi.
Mengenai penelitian sekaligus komentar agama yang telah di usung oleh para tokoh, seperti halnya Kalr Mark pendiri atau pencetus paham komunisme bersama sahabatnya Agels. Di sini teori Marx tentang komunis sangat totalitas juga banyak sekali dan agama hanya sebagian dari pemikirannya. Menurutnya agama adalah candu yang dapat melupakan seseorang dalam sistem perekonomian yang dikuasai kaum kapitalis. Jadi kaum proletar ini seakan sudah keasikan berfantasi melakukan ritual-ritual mengenai agama. Padahal bagi Marx mereka masih dijajah oleh kaum borjuis yang notabene menindas mereka dari segi ekonomi. Jadi agama disini hanya sebagai pelarian semata bagi kaum borjuis.[5] Ada lagi seorang tokoh yang ikut andil meneliti juga berkomentar mengenai agama. yaitu Freud, yang menganggap orang yaang beragama seperti kliennya yang terkena kasus neurotis. Menurutnya agama hanyalah halusinasi belaka karena yang di yakininya bersifat takhayul belum bisa di buktikan secara nyata. Menurutnya agama suatu pertahanan mental terhadap aspek alamiah mengenai alam.[6] Di sini Freud menandakan seseorang yang beragama memiliki sebuah gangguan jiwa seperti halnya obsesif konplusif yang bersifat kekanak-kanakan. Obsesif konplusif adalah suatu keadaan yang cenderung dilakukan secara berulang-ulang atas paksaan dari dalam diri yang menimbulkan ketidaknyamanan dalam diri sesorang.[7] Begitulah segelumit keterangan dari para peneliti sekaligus komentar para teoritikus mengenai agama.
Agama di Indonesia sangat beragam dan keyakinan para penganutnya sangatlah teguh dalam mendalami agamanya masing-masing. Sehingga komentar dan penelitian yang telah di usung para tokoh tidak dapat mematahkan keteguhan para penganutnya. Karena definisi agama sangatlah banyak sekali sehingga sulit dipelajari. Pengertian agama bisa dikatakan hampir sebanyak orang yang membicarakan agama itu sendiri.[8] Begitu juga di Indonesia keragaman di dalam agama seperti pelangi yang sudah terpaparkan keterangan di atas begitu beragam dan dapat di sejaajarkan tidak saling bermusuhan satu sama lain. sebenarnya pelangi di sini menganalogikan arti penting dari pluralisme yang mendorong para penganutnya untuk bersikap toleransi, berdialog, bersahabat, bekerja sama, dan setia kawan dengan orang lain.[9] di Indonesia juga sudah di ayomi oleh pancasila pertama. Jadi warga negara Indonesia saangatlah bebas dalam memilih agama dengan apa yang diyakini oleh masyarakatnya.
Sebenarnya agama di negara Indonesia bukan hanyalah enam saja, namun lebih enam yang belum di akui di negara ini. Di sini agama yang belum di akui tetap bisa berkembang namun mereka masih mempunyai batasan-batasan seperti Kartu Tanda Penduduk (KTP) yang pada kolom agama di kosongi atau di beri tanda “_”. Dalam agama yang belum diresmikan ini juga mendapat jaminan penuh oleh pasal 29 ayat 2 UUD 1945, dan agama-agama ini di biarkan asal tidak mengganggu dalam hal ketentuan hukum, keamanan, ketertiban, kesehatan moral dan hak yang lainnya. Jadi di negara ini sangatlah beragam dengan soal keyakinan karena di negara ini bukan milik satu agama, ras, adat istiadat dan suku saja, tapi negara ini milik dari berbagai agama, ras, suku dan adat istiadat.



[1] https://id.wikipedia.org/wiki/Abdullah_Totong_Mahmud di unduh 25 Januari 16 pkl. 01:13
[2] K_H_Abdurrahman_Wahid_Ilusi_Negara_Islam_Eksp(BookFi.org). pdf (SECURED) hal. 16
[3] K_H_Abdurrahman_Wahid_Ilusi_Negara,,,. Hal 17
[4] Daniel L. Pals, Seven Theories Of Religion, (IRCisoD: Jogjakarta, 2012). Hal 23
[5] Ibid hal Daniel L. Pals, Seven Theories.... Hal. 200-208
[6] Fauzan Saleh, keberadaan tuhan dan pluralisme agama, (STAIN Kediri Press: Kediri, 2011). Hal. 117
[7] Iskandar Junaidi, Anomali Jiwa cara mudah mengetahui jiwa dan perilaku tidak normal lainnya, (Cv. Andi Offset: Yogyakarta, 2012). Hal. 61-62
[8] Daniel L. Pals, Daniel L. Pals, Seven Theories,,,. Hal. 375
[9] Kata pengantar Kautsar Azhari Noer yang berjudul “ di buku Tasawuf Mendamaikan Dunia karya Media Zainul Bahri. Hal xiv
Share:

Rabu, Februari 24

Mengubah anak, mengubah bangsa!!!


Anak pada saat ini sangat ramai sekali diperbincangkan dari kalangan kecil hingga kalangan besar, maksudnya kalangan kecil ialah perdiskusian  yang berada dikalangan para mahasiswa dan dikalangan besar ialah seminar-seminar yang bertajuk parenting yang sudah dilakukan diberbagai kota besar. Contohnya kemarin di Yogyakarta.
Anak sangat di jaga, karena anak adalah aset yang paling baik untuk mengubah bangsa ini. Bukan meneruskan bangsa ini , karena kalau meneruskan bangsa ini lihatlah negara ini seolah-olah sudah hancur, kasus dimana-mana seperti halnya korupsi yang tak pernah henti-hentinya, begitulah kira-kira tragedi saat ini. Jadi sebaiknya pada tulisan ini anak adalah sebagai pengubah bangsa ini kearah yang lebih baik tentunya.
Teringat moment pada tanggal 24 Januari 16, yaitu saya khususnya bersama teman-teman mengikuti sebuah aksi pembagian balon kepada anak-anak untuk memperingati HUT Ikatan Lembaga Mahasiswa Psikologi Indonesia (ILMPI). Disini kami yang berada di wilayah lima yang melingkupi Jawa Timur, Madura, Bali dan Nusa Tenggara. Inginnya kami lakukan di satu lokasi, namun melihat geografis yang sangat jauh dijangkau akhirnya kami Melakukannya di beberapa titik, salah satu tempat saya dengan teman-teman. Yaitu, berada di jalan Dhoho Kediri di waktu Car Free Day (CFD). Di sini melingkupi IAIN Tulungagaung, STAIN Kediri dan UNDAR Jombang. Namun pada pertemuan itu UNDAR masih belom bisa mengikuti karena ada kepentingan yang tidak bisa ditingkalkan dari pihak UNDAR itu sendiri.
            Kembali ke anak, di tulisan ini anak sebagai icon utama. Karena, pada usia anak adalah masa-masa meniru apa yang dilakukan oleh ortunya. Pada usia anak, anak sangat cepat meresapi pelajaran  yang diberikan oleh ortunya juga lingkungannya. Maka dari itu pada masa ini anak bisa disebut goleden age “masa keemasan”. Nah, ayo sayangi anak umtuk mengubah bangsa ini menuju kearah yang lebih baik. Dengan cara membentuk sifat dan karakter anak. Dengan menggunakan berbagai cara yaitu ortu tetap menjaga komunikasi dengan anak, menyayangi dengan tulus, dan menddidiknya dengan baik.
            Masa anak-anak dimulai setelah melewati masa bayi yang penuh ketergantungan, yakni kira-kira usia 2 tahun sampai anak matang secara seksual. Pada umurnya anak itu di bagi menjadi dua yaitu anak pada masa awal dan masa akhir. Pada anak masa awal yaitu berumur 2 sampai 6 tahun, sedangkan anak pada masa akhir yaitu umur 6 sampai matang secara seksual, biasanya ini terjadi waktu umur 12 tahun atau waktu menginjak remaja. Dalam perkembangan anak akan mengalami perubahan yang signifikan seperti perkembangan fisik, psikososial dan kognitif anak (Desmita, Psikologi Perkembangan, Bandung: Ikapi, 2008) hal. 127

Mengubah anak mengubah bangsa dengan cara-cara memperhatikan psikososialnya dalam berinteraksi bersosialisasi dengan orang lain, kognitifnya dalam mengubah cara berpikir atau cara pandang si anak dan tak lupa kepada fisiknya agar tetap berkembang seperti halnya orang biasa dengan memberikan asupan gizi pada anak. Berarti di sini kesuksesan berada di tangan anak-anak pada saat ini. Jadi sukseskanlah anak-anak kalian. Karena dengan itulah kunci bangsa kita ini.
Share:

Minggu, Desember 20

perasaan dan emosi

Setiap hari manusia tak lepas dengan yang namanya emosi dan perasaan. Sebab setiap orang saya yakin bahwasannya mempunyai sebuah emosi dan perasaan. Adapun dalam detiknya, menitnya perasaan emosi seseorang berubah-ubah. Wajar jika seperti iyu karena itu sifat asli manusia, apalagi dengan perempuan. Karena permpuan lebih mengedepankan aspek perasaan dari pada laki-laki. Dan laki-laki lebih mengedepankan aspek logikanya. Bukan berarti perempuan tidak memperdulikan logikanya atau sebaliknya dengan laki-laki tidak memperdulikan aspek perasaannya. Tapi disini saya tidak membahas kenapa laki-laki dengan logikanya, dan mengapa perampuan dengan perasaannya. Mungkin akan tulis itu di lain waktu.
Disini saya akan sedikit membahas yang namanya perasaan dan emosi. Karena perasaan dan emosi sangat sulit debedakan jika dilihat secara sekilas. Padahal banyak perbedaan diantara keduanya. Ada perbedaan pastilah ada juga dengan persamaan diantara keduanya. Perbedaan dan persamaan Itu sudah seperti dua sisi kembar yang selalu melekat dalam setiap kata-kata. Kembali ke emosi dan perasaan dalam ranah ini studi-studi kasus, teori-teori, jurnal-jurnal, banyak yang sudah menliti tentang keduanya. Mungkin dalam penjelasan ini tidak segamblang teori-teori, jurnal-jurnal itu. Karena, di atas sudah saya singgung bahwasannya saya hanya  sedikit membahasnya. Tapi saya tidak akan lupa menerangkan secara gamblang perbedaan dan persamaan dianatara keduanya. Dengan begitu harapannya penulis terhadap pembaca mengerti secara umum bagaimana itu emosi, dan bagaimana itu perasaan.
Dalam tulisan ini penulis terlebih dulu membahas emosi, karena emosi itu lebih tampak dari pada perasaan. Dalam bukunya Paul Ekman membagi 6 emosi dasar yaitu, senang, bahagia, sedih, jijik, takut, marah, dan terkejut. Sehingga emosi itu lebih tampak dari pada perasaan. Emosi juga mudah diamati sehingga banyak penelitian-penelitian tentang emosi. Sedangakan perasaan disini adalah suatu keadaan yang belum termanifestasi dengan perilaku. Jadi perasaan hanyalah sebatas angan-angan yang keluar di dalam hati setiap manusia. Mungkin secara garis besar keduanya sudah tampak perbedaannya, sedangkan  persamaannya terletak pada sebuah keinginan perasaan dan bentuk emosinya. Seperti halnya perasaan merasa senang lalu di manifestasikan dengan rasa emosi yang ceria.
Manusia sebagai makhluk sosial haruslah pintar-pintar mengontrol emosi dan perasaan. Karena dengan itu manusia lebih dapat leluasa dalam bersosialisasi. Bayangkan jika anda mudah bergaul kepada setiap orang di sekitar anda, pasti anda akan lebih banyak teman, lebih disukai teman. Jika anda dapat mengontrol emosi dan perasaan lebih bagus lagi, anda tidak akan susah payah untuk mengendalikan forum semisal anda menjadi pembawa acara, moderator dalam diskusi, dan masih banyak lagi
Manusia boleh fokus terhadap kecerdasan secara intelektual, tapi hal seperti itu tak luput atau tak bisa keluar dengan yang namanya emosi dan perasaan. Karena, emosi dan perasaan adalah subangsih pertama dalam mendapatkan keinteletualan atau kecerdasan dalam ranah ilmu pengetahuan itu. Emosi dan perasaanlah yang sangat membedakan manusia dengan suatu karya yang diciptakannya, seperti contohnya tulisan ini tidak akan bisa mempunyai emosi dan perasaan baik atau jeleknya, tapi penulis atau pembacalah yang lebih tahu bagaimana dengan tulisan ini.
Setiap orang pasti mempunyai perilaku, kepribadian, tingkah laku, sifat, emosi dan perasaan sendiri-sendiri. Mana mungkin manusia mempunyai semua hal itu sama dengan individu yang lain. contohnya si A mempunyai sifat penakut, pasti saat si A diusilin temannya emosi atau perasaan yang dimunculkan itu takut. lalu apakah si B juga punya emosi dan perasaan yang sama seperti si A. Padahal si B mempunyai sifat yang suka marah, pasti berbeda. Maka dari itu manusia itu memang unik kalau di inpretasikan secara individual.

Beragam cara mengetahui emosi seseorang, dengan cara memperhatikan micro expresi  dari wajah, sikap bahu, sikap kepala, sikap lengan, sikap kaki dan sikap badan seseorang. Jadi dengan cara itu  pengamat bisa mengetahui beberapa gerak gerik dari seseorang yang di amati. Dengan adanya itu juga memudahkan pengamat untuk mengetahui bagaimana emosi yang dialami seseorang saat itu. Namun cara itu masih sulit bila diterapkan terhadap sebuah perasaan, karena perasaan belum di wujudkan dengan sebuah gerakan maupun ekspresi, karena perasaan masih dalam angan-angan seseorang.
Share: